DESAIN COVER
DESKRIPSI FISIK
Judul : Sayap Patah; Sebuah Novel tentang Cinta, Kehilangan, dan Keteguhan yang Sunyi
Penulis: Sutangsa
Editor: Hahn Cheva
Layouter: Hahn Cheva
Desain Cover: Hahn Cheva
Ukuran Buku: 15 x 21
Jumlah Halaman: 314
HalamanHarga: Rp.90.000,-
ISBN: Dalam Pengajuan
SINOPSIS
Sejak hari kepergiannya, hidup tidak pernah benar-benar berhenti hanya berubah bentuk.
Sayap Patah adalah kisah tentang seorang lelaki yang belajar bertahan setelah kehilangan perempuan yang pernah membuat hidupnya utuh. Dari luar, ia tampak baik-baik saja. Ia bangun pagi, bekerja, menjawab sapaan, bahkan tertawa pada saat yang tepat. Orang-orang mengatakan waktu telah menyembuhkan. Ia tidak membantah. Ia hanya mengangguk.
Namun di dalam dirinya, kehilangan itu tidak pernah hilang. Ia hanya berubah menjadi ruang kosong yang menetap.
Doanya pun berubah. Ia tidak lagi memohon dengan mendesak atau menyusun harapan dengan keyakinan yang keras kepala. Ia tetap berdiri di atas sajadah yang sama, tetapi kali ini lebih banyak diamnya. Ia tidak menolak Tuhan, tidak pula meninggalkan iman. Ia hanya belajar menerima bahwa tidak semua yang diyakini baik akan berakhir seperti yang diharapkan. Dalam sunyi, ia mempertanyakan tanpa protes, percaya tanpa kepastian yang lantang.
Hari-hari berjalan dengan ritme yang biasa: secangkir kopi yang kini selalu satu, sisi tempat tidur yang tak lagi terisi, sore yang terlalu tenang. Ia belajar menyebut nama yang dicintainya tanpa suara yang pecah. Ia belajar menjawab “baik” meski di dalam kata itu tersimpan rindu yang tidak pernah benar-benar selesai.
Di makam perempuan itu, ia akhirnya mengerti bahwa hidup tak menuntutnya untuk terbang setinggi dulu. Ia hanya perlu tetap berdiri. Seperti burung yang kehilangan satu sayap, ia tak lagi terbang dengan sempurna tetapi masih bisa menjaga keseimbangan.
Sayap Patah adalah kisah tentang duka yang dewasa, iman yang menjadi lebih sunyi, dan kekuatan yang tidak pernah berteriak. Tentang menerima bahwa sebagian dari diri kita mungkin akan selalu tinggal di masa lalu, namun langkah tetap harus diteruskan, meski dengan satu sayap.